Suara Tuhan

Pernah seorang pemberani berbicara kepada Tuhan. Bakarlah semak itu seperti Engkau lakukan bagi Musa, Tuhan. Maka aku akan mengikuti-Mu.

Robohkanlah dinding-dinding itu seperti Engkau lakukan untuk Yosua, Tuhan. Maka aku akan bertarung. Teduhkanlah gelombag Danau Galilea, Tuhan. Maka aku akan mendengar.

Lalu orang itu pergi duduk dekat semak, tidak jauh dari dinding, dekat laut dan menunggu sampai Tuhan berbicara.

Dan Tuhan mendengar orang itu, maka Ia menjawab. Ia mengirim api, bukan untuk semak tetapi untuk sebuah gereja. Ia merobohkan dinding, bukan dari batu tetapi dari dosa-dosa. Ia menenangkan badai, bukan di laut tetapi dalam jiwa.

Dan Tuhan menunggu sampai orang itu menanggapi. Dan Ia menunggu… Dan Ia menunggu… Dan menunggu…

Tetapi, karena orang itu menatapi semak-semak, bukan hati; batu bata, bukan hidup orang-orang, lautan, bukan jiwa-jiwa, maka ia menyimpulkan bahwa Tuhan tidak berbuat apa-apa.

Akhirnya ia memandang kepada Tuhan lalu bertanya, Engkau sudah kehilangan kuasa-Mu?

Dan Tuhan memandangnya dan berkata, Engkau sudah kehilangan pendengaranmu?

Dikutip dari :
Majalah Bahana, Januari 1999. Mendengar Suara Tuhan di Tengah Angin Ribut

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s