Lima Langkah Damai Dalam Situasi Sulit

Bacaan: Filipi 4 : 4 – 9

Bagaimanakah caranya tetap tenang dalam situasi yang buruk? Mungkin Anda sedang kesulitan dalam hal keuangan atau keperluan lain. Mungkin juga ada penyakit yang berat sedang anda alami. Atau masalah rumah tangga. Hidup anda terasa kosong. Keluar krisis yang satu masuk ke krisis yang lain. Bagi anak Tuhan sesungguhnya Allah selalu ada bersama dengan kita apapun keadaan kita untuk memberi damai sejahtera. Allah menolong kita supaya tetap tenang menghadapi situasi-situasi sulit dalam Filipi 4:4-9.

                Hal pertama yang harus anda lakukan adalah fokus pada Tuhan bukan pada situasi anda. Itu lebih mudah diucapkan daripada dilakukan tetapi itulah yang Paulus maksudkan ketika ia berkata. “Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan. Sekali lagi, kukatakan bersukacitalah” (ay4). Dia tidak mengatakan bahwa kita harus bersenang-senang pada apa yang sedang kita alami, ia tidak mengatakan agar kita bersukacita atas kesulitan kita, dia mengatakan bersukacitalah di dalam Tuhan dan itu sesuatu yang sama sekali berbeda.

Sukacita menurut Alkitab adalah mengetahui bahwa Allah mengendalikan situasi kita dan selalu memberikan yang terbaik bagi kita (Roma 8:28). Itulah sebabnya Yakobus mengatakan “…  anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, apabila kamu jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan,” (Yak 1:2 TB)

Bukan berarti bahwa pencobaan membuat kita bersukacita, melainkan apa yang Allah lakukan dalam pencobaan adalah untuk mendatangkan kebaikan bagi kita. Bukan pencobaannya yang mendatangkan kebaikan tetapi apa yang Allah lakukan. Apabila selalu bersandar kepada Tuhan, kita pasti dapat menganggap pencobaan bukan sebagai hal yang berat. Barang siapa berpegang pada Allah ia memiliki harapan. Inilah yang dimaksud dengan memiliki harapan di dalam Tuhan, sehingga ketika kehilangan harta dan keluarganya Ayub bisa berkata, “Terpujilah nama Tuhan” (Ayub 1:21). Allah mengijinkan pencobaan itu terjadi bukan karena Allah mencobai tetapi supaya pekerjaan Allah dinyatakan.

                Kedua, Tetapi itu baru awal, kita tidak bisa berhenti di situ karena setan dan keinginan daging kita selalu mencari cara untuk menggigit kita kembali.  Kegusaran, kepedihan dan lain sebagainya adalah keadaan yang sangat mudah membuat kita kehilangan kontrol.

Dengan tetap fokus pada Allah, kita justru benar-benar terlibat dalam memberi yang terbaik juga bagi orang lain. Paulus berkata, “Hendaklah kebaikan hatimu diketahui semua orang. Tuhan sudah dekat!” (ay.5).

Sambil bersukacita di dalam Tuhan, kita harus melihat orang lain juga. Biarlah kelembutan, kebaikan, kesabaran dan kemurahan hati kita dirasakan oleh orang lain. Bagaimana kita dapat melakukan hal itu? Ingat, Tuhan bersama kita, kita sedang bersukacita di dalam Dia. Tuhan mau supaya orang di sekitar kita jaga merasakannya. Kesaksian yang luar biasa, bukan?  Banyak orang bisa bersaksi dengan kata-kata bagaimana Tuhan melepaskan mereka dari kesulitan, itu sungguh baik. Tetapi kita juga bisa bersaksi justru pada saat kita sedang di dalam kesulitan itu dan ini luar biasa.

Tidak berarti  Allah ingin kita melayani orang lain dalam kesulitan kita. Dalam kesulitan, jika kita terlalu fokus pada diri sendiri, maka kita akan putus asa. Demikian juga kalau kita terlalu fokus pada orang lain kita akan terganggu dan tidak dapat menikmati sukacita di dalam Tuhan. Itulah kelemahan kita dan Tuhan tahu kelemahan itu.

Tuhan sudah dekat, artinya jangan sia-siakan waktu anda untuk larut dalam kesedihan, kesusahan dan keputus asaan. Dengan fokus pada Tuhan maka kita tidak akan pernah berhenti menyinarkan kemuliaan Tuhan.

                Ketiga.  Dua hal sudah kita lakukan. Tetapi apa yang terjadi saat kita sendiri atau ketika tiba saatnya kita untuk tidur? Kepala terasa panas, jantung berdetak kencang, ada rasa cemas, ada rasa takut! Apa yang harus kita lakukan? Ingat Firman Tuhan, “Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur.” (ay.6).

Bener pak, saya sudah berdoa tapi masih tidak bisa tidur! Pikiran macam-macam, apakah saya sudah menyampaikan setiap masalah saya, apakah saya sudah berdoa dengan cara yang benar, apakah Tuhan menyalahkan kata-kata saya, apakah, apakah, apakah….! Cara pikir demikian sama saja dengan orang yang tidak percaya kepada Tuhan. Mat 6:7-8.

                Tuhan berkata dengan sungguh-sungguh, katakan kepadaKu dan istirahatlah! Ketika kita berdoa dan menyampaikan beban kita pada Allah, “Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus.” (ay 7) (memelihara=menjaga). Damai sejahtera Allah bagaikan pasukan elite berjaga melindungi hati dan pikiran kita dari segala macam gangguan.

                Keempat.  Setelah berdoa, Paulus meminta kita untuk memikirkan hal-hal yang baik dari Allah. Bukan kembali kepada masalah kita. Inilah yang dinamakan peperangan; berjuang untuk mengubah apa yang kita pikirkan. “Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu.” (ay8).

Kita harus melangkah maju! Semakin Anda memikirkan hal-hal tentang Allah, seperti kata Paulus, maka kita akan semakin mengenal Allah dan jalan-jalanNya “Sebab TUHAN Allah adalah matahari dan perisai; kasih dan kemuliaan Ia berikan; Ia tidak menahan kebaikan dari orang yang hidup tidak bercela.” Maz 84:11.

                Kelima. Ada satu hal lagi. Kita sudah memindahkan fokus kita dari masalah kepada Allah, Paulus berkata untuk memastikan kita tetap melakukan itu. Tetaplah konsisten melakukannya, “Dan apa yang telah kamu pelajari dan apa yang telah kamu terima, dan apa yang telah kamu dengar dan apa yang telah kamu lihat padaku, lakukanlah itu. Maka Allah sumber damai sejahtera akan menyertai kamu.(ay.9)

Masalah, kesulitan, persoalan apapun bentuknya akan selalu muncul  selama kita masih ada di dunia ini. Sama seperti seorang anak yang memainkan game perang-perangan. Selesai dengan musuh yang satu, datang musuh yang lain, dan terus begitu sampai kita menyelesaikan level yang terakhir. Tetapi biasanya anak-anak akan game over lebih dulu.

Pengalaman kita  juga demikian, sehingga Paulus menasehati kita supaya konsisten. Tetapi tidak game over, karena Tuhan bersama kita. Pengalaman pertama akan menjadi perlajaran untuk pengalaman kedua, yang kedua akan menjadi pelajaran bagi yang ketiga dan terus berlaku demikian. Dan kita harus konsisten.

Allah menyertai kita! Artinya Allah ada bersama dengan kita, Allah sumber damai itu berjalan bersama dengan kita. Betapa kalut, susah, cemas dan putus asanya keadaan kita, tetapi kini Sumber Damai itu bersama-sama dengan kita untuk melewatinya.

GBII Nusa Dua

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s